Seulas senyum senja, membentang memenuhi hamparan cakrawala,
dercak-dercak jingganya menebar merata menghiasi angkasa raya. Salah
satu lukisan ilahi yang mempesona. lutfi yang sudah dua tahun nyantri di
bumi lantani tersenyum penuh suka cita, hatinya riang gembira, tak
henti hentinya iya memandang kota tuban, tanah kelahiranya.’’sebentar
lagi’’ pikirnya ketika bus mutiara yang ditumpanginya singgah di
terminal kota Tuban. Tiada yang membuatnya lebih bahagia dari pada
liburan dan pulang ke kampung halaman.
Akhirnya Setelah salam salaman sama orang tua, saudara-saudara, semua
famili di rumah, dan tak lupa ia juga mampir menyapa tetangga dekatnya,
lutfi yang memang bertampang lumayan kece itu melepas penatnya di taman
belakang rumah yang penuh dengan tanaman hias.
‘’assalamualaikum’’ sebuah suara menengahi kesendiriannya, suara yang
tak asing di telinga lutfi walau ia telah lama meninggalkan kampungnya.
Ia menoleh.
‘’Waalaikum salam.. hai farid! Gimana, wah tambah gemuk aja
nich....’’ sahutnya seraya memberikan tempat pada teman lamanya itu
untuk turut bersantai menikmati tanaman hiasnya. Obrolan ringan karena
kerinduan pun mulai mengalir di antara keduanya..
‘’ea lut, entar malem ada pengajian nich, tempatnya di rumah H.
Syafi’i, seberang jalan tuh!... "sela farid sembari menunjuk rumah di
pinggir jalan raya yang di bentangi dengan pagar besar bak istana
kerajaan.
"Ea... insya allah’’ jawab lutfi datar.
‘’pokoknya kamu harus datang, ok! Udah ya, assalamualaikum’’ Farid berpamitan.
‘’Waalaikum salam” jawabnya. Lutfi tersenyum simpul memandang sahabatnya lenggak lenggok berlalu. Biasa “jemblong” tuh!.
*****
Acara tasyakuran di rumah H. syafi’i tampak meriah. Semua tamu yang mayoritas wong kopyahan atau jilbaban tampak bersuka cita, terhanyut oleh lantunan nasyid annabawiyah lantany. Tak ketinggalan Lutfi tampak bersahaja dengan setelan baju takwa putih yang juga berbaur bersama. Bibirnya tiada henti bersholawat seiring lagu, sementara penglihatannya mulai menyapa seluruh isi ruang yang penuh orang. Mereka adalah keluaga islami yang memancarkan cahaya keimanan dan berkah dari setiap sisi dinding rumahnya. Lafadz agung Allah, gambar orang orang yang berjasa di masanya seperti para wali, kyai besar dan juga bapak presiden Abdurrahman Wahid terhias di sepanjang dinding.
Acara tasyakuran di rumah H. syafi’i tampak meriah. Semua tamu yang mayoritas wong kopyahan atau jilbaban tampak bersuka cita, terhanyut oleh lantunan nasyid annabawiyah lantany. Tak ketinggalan Lutfi tampak bersahaja dengan setelan baju takwa putih yang juga berbaur bersama. Bibirnya tiada henti bersholawat seiring lagu, sementara penglihatannya mulai menyapa seluruh isi ruang yang penuh orang. Mereka adalah keluaga islami yang memancarkan cahaya keimanan dan berkah dari setiap sisi dinding rumahnya. Lafadz agung Allah, gambar orang orang yang berjasa di masanya seperti para wali, kyai besar dan juga bapak presiden Abdurrahman Wahid terhias di sepanjang dinding.
Namun diam diam Lutfi menemukan sebentuk bidadari di penghujung
tatapannya. Sebelum acara selesai, lutfi sempat berkenalan dengan
seorang dara jelita itu, wajahnya yang ayu dibalut jilbab dan sepasang
mata bak permata yang tidak pernah di temui oleh penyelam di sepanjang
samudra membuatnya tersihir oleh rasa pesona. “Siti Zulaikhah”, begitu
iya menyebutkan nama. Lutfi tidak dapat berkata, ia mencoba menahan
gemuruh lubuk hati yang kian membahana dan mulai meneruskan perkenalan. “
Lutfi Mabruri”.
Zulaikhah hanya menundukan kepala, cahaya aura lutfi telah
memenjarakan hatinya. Tanpa sadar ada getaran yang menyala di sudut
hatinya. Walau pada pandangan pertama kedua, detak hati insan ini tak
bisa berdusta, bara asmara telah menyala dan berkobar menerangi istana
atas nama cinta. Tak ada kata terucap, hanya isyarat kerlingan mata
yang syahdu memenuhi waktu mereka, sampai acara selesai.
*****
Waktu tak pernah berhenti menelan ruang kisah manusia. Lutfi dan zulaikhah, walaupun hanya merangkai bayangan syahdu, mereka bahagia dan tidak lelah merajut siang dengan syair-syair indah membingkai malam dengan lagu-lagu rindu. “duhai khusni, bantulah hamba yang lemah ini”
Waktu tak pernah berhenti menelan ruang kisah manusia. Lutfi dan zulaikhah, walaupun hanya merangkai bayangan syahdu, mereka bahagia dan tidak lelah merajut siang dengan syair-syair indah membingkai malam dengan lagu-lagu rindu. “duhai khusni, bantulah hamba yang lemah ini”
“emang ada apa?” khusni tampak mengerutkan kening, wajah sobatnya pucat. “kamu sakit?” sambungnya lagi.
“karena sakit ini aku menemukan kenikmatan yang tiada tara, suatu
kelezatan yang terilham dari syurga.” . mimik muka lutfi serius, khusni
hanya melongo heran. “kenapa nih anak,” pikirnya dalam hati. “tolong
serahkan surat ini pada zulaikhah” tangan lutfi gemetar menyerahkan
surat pada khusni.
“oh,.. ini ta masalahnya, kirain ada apa. Ok deh !”
“sampaikan salamku padanya”, suara lutfi kian serak ada titik linang
tertahan di pelupuknya. Setelah khusni berlalu, lutfi tak
mampu menahan air mata, ia menangis karena bahagia, sepatah sayapnya
telah di bawa oleh khusni tuk di persembahkan pada sang kekasih.
“zul, ini dari lutfi, dia juga nitip salam buat kamu” khusni menyerahkan sepucuk surat pada zulaikhah dan langsung pamit pulang.
Teruntuk adinda siti zulaikhah
Duhai sepasang sayap rinduku. Ketika siul camar mendenting. Dawai-dawai asmara. Seisi alam teriak cemburu. Saat ku rengkuh lukisan indah senyumu. Duhai belahan sanubari. Saat waktu mulai menghapus kisahku. Kutemukan bias rinduku untukmu. Hingga tak henti alam mimpiku. Mengukir percik percik kilau auramu.
Duhai sepasang sayap rinduku. Ketika siul camar mendenting. Dawai-dawai asmara. Seisi alam teriak cemburu. Saat ku rengkuh lukisan indah senyumu. Duhai belahan sanubari. Saat waktu mulai menghapus kisahku. Kutemukan bias rinduku untukmu. Hingga tak henti alam mimpiku. Mengukir percik percik kilau auramu.
Duhai separuh nafasku. Hesrat hati merangkai kisah mempesona.
Bersama sang adinda, menelusuri indahnya taman nirwana. Harap hati
bingkai asa ini tak terlalu maya tuk jadi nyata Maukah dinda merajut
serat-serat rindu bersama musafir cinta ini?.
Makhluk lemah, lutfi mabruri .
Brak!!, zulaikhah tak sadarkan diri, panah-panah rindu telah menusuk
dan merobek-robek pikiran jernihnya. Setelah sadar, dengan langkah
lunglai ia mengambil wudhu, lalu shalat dua rakaat. Dalam doa ia
menangis sejadi jadinya “ Robby,.. engkau maha mengerti walau hanya
sebisik hati, haruskah diri menghabiskan sisa akhir nafas hidupku, hanya
terpaku merindu, membiarkan diri lupa akan kehangatan kasih-Mu.
Robby... segarkanlah gersang lubuk dengan tetesan agung rahmatmu,
sungguh nirwana cinta telah menghabiskan waktu tuk bercumbu
bersama-Mu... amiin..” Sekali lagi zulaikhah pingsan, mukenanya basah
oleh air mata yang menghiasi cawan cintanya yang telah mengekang detak
jantungnya.
***
Di ufuk timur nan jauh di sana, sang fajar masih tersenyum elok menghiasi tebing-tebing cakrawala bersama lelehan air mata, zulaikhah menulis balasan surat pada lutfi.segala rasa, segala cinta , segala duka ia tumpahkan pada secarik kertas di hadapanya. Setelah selesai ia mencium beberapa kali sebelum di titipkan pada khusni. “ ya robby.... selamatkanlah dia sampai tujuan, karena dia membawa separuh nafasku. Amiin...” ratap zulaikhah pada relung hatinya.
Di ufuk timur nan jauh di sana, sang fajar masih tersenyum elok menghiasi tebing-tebing cakrawala bersama lelehan air mata, zulaikhah menulis balasan surat pada lutfi.segala rasa, segala cinta , segala duka ia tumpahkan pada secarik kertas di hadapanya. Setelah selesai ia mencium beberapa kali sebelum di titipkan pada khusni. “ ya robby.... selamatkanlah dia sampai tujuan, karena dia membawa separuh nafasku. Amiin...” ratap zulaikhah pada relung hatinya.
Buat insan yang ku puja Atas nama
cinta... Yang telah mengukir prasasti-prasasti suci. Di retak dan
dinding sanubari. Hanya seulas senyum sang kekasih dinanti. Ketika
beratus kali angan tersuruk-suruk. Menelusuri dimensi dengan segenggam
sunyi.
Duhai musafir cinta
Di setiap langkahmu ku dengar. Dentingan syair-syair rindu yang tulus. Berirama bersama alunan lagu. Yang menyatukan cinta dan rindu.
Wahai pelipur laraku.
Di saksikan siraman sang purnama. Mari kita meneguk rasa di cawan cinta. Tuk mengikrarkan satu kata cinta Semoga perjalanan kita nanti di ridhoi Allah sang maha adidaya. Amiin...
Perindumu.
Duhai musafir cinta
Di setiap langkahmu ku dengar. Dentingan syair-syair rindu yang tulus. Berirama bersama alunan lagu. Yang menyatukan cinta dan rindu.
Wahai pelipur laraku.
Di saksikan siraman sang purnama. Mari kita meneguk rasa di cawan cinta. Tuk mengikrarkan satu kata cinta Semoga perjalanan kita nanti di ridhoi Allah sang maha adidaya. Amiin...
Perindumu.
Di iringi derai air mata, ia bersujud syukur, syukur atas panah
cintanya yang terarah. Tepuk cintanya Tak sebelah. “ ya ilahi... dzat
yang maha mengetahui segala detak-detak hati hamba. Bukan maksud hamba
memadumu, diri tak punya daya tuk berpaling dari lukisan syurga yang
engkau ilhami.”
Lutfi hanya bisa mengadu pada sang rab nya. Tak mungkin ia menemui
sang kekasih untuk mengobati sakit rindu, karena syariat melarangnya.
Memang tidak ada kata toleransi dalam agama islam tuk memperbolehkan
pacaran.
Tak terasa 14 hari terlewati antara lutfi dan zulaikhah memadu kasih,
merangkai rindu hanya melewati tarian pena, namun mereka tetap bahagia
merajut kasih di “alam maya”. Seharian lutfi nampak gelisah, karena
besok sudah harus balik ke PPS, dalam hatinya ada dua sisi yang
berkecambuk, “antara cita-cita atau pesona cinta”. Tak ada jawaban atas
pertanyaan hatinya. Hari rabu tanggal 24 R. Awal, ia memutuskan balik
tepat waktu ke PPS. Yach...! demi tholabul ilmi, ia bungkus cintanya
dengan harapan yang mulia, demi syiar agama ia kekang gumuruh jiwanya
dengan tasbih dan istighfar. Demi cita-cita suci ia bingkai rindunya
dengan dzikir dan sholawat.
Sebelum berangkat, lutfi menemui khusni yang telah membawa rindunya
pada zulaikhah. “selamat jalan sauaraku, insya allah dengan mendekatkan
diri pada sang khalik engkau mampu meredam nafsu cintamu” ucap khusni
lirih, mereka tak mampu menahan air mata dalam rangkulan dua sahabat
fillah. Khusni sekarang menuju rumah zulaikhah, surat terakhir dari
lutfi ia pegang erat-erat, ada perasaan iba dan bangga pada perjalanan
cinta kedua insan ini.
Selama angin musim semi menggoyangkan helai-helai cendan. Tak kan henti denyut nadiku merajut indah di hela aksara namamu. Demi semua penghuni semesta. selama hempas semilir senja, Tak lelah melambaikan janur kelapa. Menghabiskan waktu merangkuh rindu. Sekarang yach... sekarang... Mungkin kita harus meregangkan rindu ataupun cinta yang menggebu. Demi cinta demi masa depan yang bercahaya. Insya allah kita akan sebenderang purnama
Kasihmu Lutfi mabruri.
“selamat jalan pangeranku... moga kita menemukan sisa-sisa percik
rahmatnya. Insya allah sampai kapanpun aku akan menunggumu wahai
pujaanku”. Dengan cucuran air mata zulaikhah mengecup lembut surat
terakhir dari pujaanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar