Rabu, 25 Juni 2014

Cerpen Islami - Ayahku Seorang Kyai

Penulis : Chairul Sinaga

Semoga bermanfaat

Usiaku masih sekitar 14 tahun, ketika aku pertama kali melihat ayahku marah besar. Bukan, ia bukan marah kepada kami, keluarganya. Tapi, ia mendamprat habis seorang tamu yang sedang berkunjung. Sebagai orang Batak, tentu saja hal-hal semacam itu dianggap biasa di tengah masyarakat kami yang bertemperamen keras. Namun tetap saja, orang-orang di sekitar kediaman kami berlomba-lomba melihat kejadian langka tersebut. Entah kenapa, kemarahan ayahku membuat mereka rela menunda berbagai aktivitas yang sedang dilakukan. Bahkan, astaga, aku sangat yakin jika saat itu aku juga melihat seorang bapak tergopoh-gopoh menutupi tubuhnya dengan handuk demi menyaksikan adegan tersebut secara live.
Aku tidak tahu pasti alasan yang membuat mereka bergegas meninggalkan makanan yang sedang disantap, televisi yang sedang ditonton, bahkan sabun yang baru saja disiapkan untuk mandi. Sungguh, itu bukan hiperbola. Itu semua adalah kenyataan karena aku ada disana ketika fenomena ‘langka’ tersebut terjadi. Dan aku berusaha menebak mengapa massa berbondong-bondong berkumpul demi melihat kemarahan ayahku. Semua kemungkinan coba kuanalisa dengan otakku yang masih ‘hijau’ ini. Sampai aku teringat jika penyebab dari kumpulan manusia ini mungkin saja berasal dari sosok ayahku yang lembut, jauh dari watak orang-orang pemarah. Hingga aku menyadari sebuah kenyataan lain, dan itu membuatku tertegun cukup lama ketika itu. Aku baru ingat kalau ayahku bukan orang biasa. Pantas saja begitu banyak manusia yang berusaha melihat kejadiaan ini. Ayahku seorang kyai!!!
Kejadian itu berlangsung saat semua masyarakat Indonesia seharusnya bersukacita menyambut hari kemerdekaan yang 2 minggu lagi akan datang. Hari yang seharusnya memiliki makna lebih bagi sosok ayahku. Karena ia turut memiliki andil dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Ya, ayahku dulunya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Bahkan ia adalah seorang pemimpin pasukan khusus. Pasukannya terdiri atas santri pilihan dari pondok pesantren yang ayahku kelola ketika itu. Kenapa kusebut ‘santri pilihan’? Karena hanya santri yang benar-benar berkualitas sajalah yang diizinkan untuk bergabung ke dalam pasukan ini. Tidak hanya semangat juang dan ketahanan fisik saja yang menjadi syarat dari laskar ‘elit’ santri itu, tapi kualitas iman mereka selama berada di pondok pesantren dan kesiapan mereka dalam menyongsong bahaya maut juga menjadi tolak ukur utama dalam penyaringan pasukan yang dilakukan oleh ayahku sendiri pada saat itu.
Ia masih begitu muda dan gagah ketika memimpin orang-orang semacam itu untuk bergerilya melawan kelaliman penjajahan Jepang. Bersama mereka, ia berusaha mengusir kaum yang mengaku sebagai ‘saudara tua Indonesia’ itu dari bumi Sumatera Utara dengan senjata seadanya. Pada akhirnya, usaha itu bisa dikatakan berhasil berkat strategi yang matang dan kerjasama yang baik dengan satuan-satuan pejuang lainnya di berbagai wilayah Sumatera. Meskipun untuk itu, ayahku harus kehilangan seluruh santrinya. Bukan, mereka bukan dieksekusi oleh tentara Nippon. Tapi mereka terpaksa berlindung ke daerah lain karena pondok pesantren yang dikelola oleh ayahku dibumi hanguskan oleh pasukan Nippon ketika itu. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ayahku ketika itu. Namun berdasar cerita yang kudapatkan dari paman-pamanku, aku tahu kalau ayahku merasa begitu sedih dengan hal tersebut. Ia merasa gagal melindungi santri-santri yang sudah dianggap anaknya sendiri padahal ketika itu ia memiliki anak buah cukup banyak.
Ketika membayangkan hal ini aku jadi teringat dengan salah seorang raja di Kerajaan Singosari yang masyhur itu. Ia mengirimkan ekspedisi pasukan ke wilayah Sumatera demi mewujudkan ambisinya untuk menyatukan Nusantara. Sayang, ia melupakan keamanan di pusat pemerintahannya di Jawa Timur sana sehingga dengan begitu mudah dapat ditaklukkan oleh kerajaan lain. Hei, apa gunanya memperoleh banyak kemenangan di berbagai tempat, tapi ternyata engkau sendiri tak sangup melindungi kediamanmu?
Latar belakang ayahku yang merupakan pejuang kemerdekaan itulah yang membuat tamu tadi datang berkunjung ke rumah kami untuk kesekian kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Ya, tamu ayahku itu memang pernah beberapa kali bertamu ke tempat tinggal kami, meskipun untuk hal tersebut ia harus rela menempuh jarak yang lumayan jauh dari pusat kota Medan. Wajar saja, saat itu kami sekeluarga masih tinggal bersama di salah satu desa di pelosok Sumatera Utara. Ia selalu datang dengan tujuan yang sama. Yaitu menawarkan tunjangan tahunan yang disediakan oleh Kementerian Dalam Negeri bagi para veteran perang seperti ayahku. Dan jawaban ayahku dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya pun selalu sama pula, yaitu menolaknya dengan tegas.
Awalnya, kunjungan tamu tadi berjalan seperti biasa. Namun semuanya mulai berubah ketika tamu tadi mulai tak sabaran. Sepertinya ia kesal dengan sifat ayahku yang begitu keras kepala dalam hal ini. Bayangkan saja, berkali-kali ia datang kemari dengan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan jawaban yang diperolehnya selalu saja sama, yaitu kata: TIDAK. Manusia mana yang tidak frustasi dengan hal semacam itu? Tentunya tamu tersebut bukan seseorang yang begitu sabar layaknya junjungan semesta alam ini kan?
Dan genap habis sudah amunisi argumen tamu tersebut. Ia tetap saja tak mampu mengubah pendirian ayahku itu, meski mulutnya sudah berbusa-busa menyampaikan tujuan dan manfaat dari program tunjangan ini. Hingga di tengah keputus asaannya ia mencoba mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dan, astaga, inilah yang menjadi sebab kemarahan besar ayahku ketika itu.
Anda pasti tahu jika ayahku merupakan seorang kyai kan? Tapi tahukah Anda kenapa ia dipanggil begitu? Itu karena ia merupakan seorang direktur pondok pesantren yang ia rintis bersama sejumlah koleganya beberapa tahun yang lalu. Nah, tamu tersebut berusaha menyindir kondisi pesantren yang, kuakui, lumayan memprihatinkan dengan kondisi keluarga kami yang, lagi-lagi kuakui, hidup pas-pasan. Dari situ ia berusaha mempengaruhi ayahku jika tunjangan tersebut dapat digunakan untuk membantu biaya operasional pondok pesantren tiap tahunnya. Namun ia salah besar. Ayahku merasa begitu tersinggung dengan ucapan tamu itu tadi sehingga ia merasa perlu untuk mengusir tamu tersebut sesaat setelah meluapakan seluruh amarahnya. Entah seberapa hebat kemarahannya ketika itu, yang pasti setelah kejadian tersebut aku tidak pernah melihat tamu itu berkunjung kembali ke rumah ini. Sungguh, itu adalah kemarahan terhebat yang pernah kulihat dari sosok ayahku hingga ia wafat sewindu yang lalu.
Meskipun kejadian itu telah berlalu hingga 21 tahun, tetap saja aku masih belum bisa menyimpulkan dengan pasti alasan mengapa ayahku menolak program tunjangan itu. Karena tentu saja, aku tidak pernah berusaha mengungkit-ungkit kejadian tersebut. Tapi setidaknya biarkan aku menyampaikan analisaku sejenak, karena bagaimanapun juga Sang Khalik telah memberiku waktu yang amat lama untuk memikirkannya sekaligus mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Mengapa ayahku menolak program yang diprakasai oleh Kementerin Dalam Negeri itu? Pasti alasannya bukan karena keberatan dengan biaya registrasi program tersebut yang mencapai setengah juta lebih. Aku yakin itu. Mungkin alasan mengapa ayahku menolaknya ketika itu karena beliau merasa tidak pantas menerima tunjangan tersebut. Dari percakapan yang sering aku curi dengar ketika mereka mengobrol dalam beberapa pertemuan, aku paham jika ayahku berjuang melawan Jepang bukan untuk karena ia ingin dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan. Akan tetapi ia memimpin gerilya melawan Jepang karena ia tidak tahan melihat penderitaan rakyat kecil akibat penindasan dari tentara Jepang. Ia muak dengan berbagai kesewenang-wenangan mereka. Karena itulah ayahku memilih untuk mengangkat senjata melawan mereka. Dan yang menjadi harapan ayahku ketika itu hanyalah keridhoan dari Sang Khalik dan ganjaran dari sisi-Nya. Bahkan menurutku, hal ini pula yang menjadi harapan ayahku ketika jatuh bangun merintis pondok pesantren bersama koleganya dulu.
Dan satu hal yang membuatku tambah percaya dengan analisaku ini ialah headline yang kubaca di salah satu media cetak nasional pagi ini. Bahkan, berita heboh ini turut membantuku dalam membuat hipotesaku tadi. Tahukah Anda berita apa yang kumaksud? Tentu saja tentang korupsi. Tapi yang membuat berita ini begitu spesial di mataku ialah wajah seseorang yang diekspos dengan begitu jelas di halaman muka surat kabar tersebut. Disitu ia disebutkan sebagai pelaku utama dalam kasus korupsi yang terjadi di tubuh Kementerian Dalam Negeri. Hebatnya lagi kasus tersebut diduga melibatkan beberapa anggota DPR RI dan petinggi Kementerian Dalam Negeri. Tahukan Anda siapa yang aku maksud? Ya, ia adalah tamu ayahku 21 tahun yang lalu. Ia diduga merugikan negara sebesar 20,1 triliun melalui praktek korupsi di beberapa proyek Kementerian. Entahlah, aku tidak tahu pasti kasus yang menjeratnya. Yang kutahu, uang registrasi pengajuan tunjangan veteran itu pun termasuk hasil rekayasanya. Aku hanya dapat mengelus dada sambil bersyukur ayahku bukan termasuk orang-orang yang terjerat dengan tipu dayanya. Bayangkan, berapa keuntungan yang ia peroleh dari biaya registrasi sebesar setengah juta lebih selama puluhan tahun itu? Aku tidak tahu pasti, tapi tentu Allah Maha Tahu atas segalanya, kan?
Anda boleh percaya atau tidak dengan berita tersebut. Tapi kalau Anda ingin membuktikannya, kutantang diri Anda untuk datang kemari, ke sebuah pondok yang kini kujalankan bersama adik laki-lakiku. Tapi kuingatkan, jangan bersusah payah mencariku di Sumatera Utara. Karena tentu saja, kami sekeluarga telah pindah ke Jawa beberapa tahun setelah peristiwa pemberontakan PKI. Baiklah, kuberi Anda sedikit bantuan. Carilah aku di derah Jawa Tengah, dan bawa selalu baju hangat ketika Anda berkunjung kesini!

Cerpen Islami - Dialog Dalam Lemari

Penulis : Siswari

Semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua yang membacanya 

Wanita muda dengan posisi tegap, berdiri tepat di depan cermin besar dalam kamarnya. Ia memandang lekat-lekat sosok yang mirip dirinya dalam cermin. Sesekali ia tersenyum. Bibirnya dioleskan dengan barang berwarna merah muda itu. Kemudian ia kembali memandangi wajahnya dan tersenyum. Dia menghadap ke samping, kemudian ke belakang, matanya tetap lekat di dalam cermin. Ia berputar-putar. Setelah termangu sejenak, disemprotkan parfum ke bajunya. Kemudian ia membuka pintu lalu pergi.
Dalam kamarnya, menyengat bau wangi dari aroma parfum yang ditinggalkannya. Tempat tidurnya masih berserakan, selimut dan guling pontang-panting. Di sudut kanan cermin besarnya, berdiri gagah lemari pakaian yang menjulang hampir menyentuh langit-langit kamarnya. Berwarna kuning muda, mengkilat.
“Kenapa dia tidak mengambilku saat membuka pintu itu?” ungkap Jilbab dengan wajah kesal. Ia sudah lama tidak keluar dari dalam lemari pengap itu.
“Sejak lulus Madrasyah, aku sudah jarang menemaninya, apakah ia sudah lupa akan jasaku padanya? Akulah yang menemaninya pergi mengaji ke rumah Cik Taupik hingga ia Khatam Al-qur’an, aku juga yang selalu menemaninya selama tiga tahun di madrasyah, apakah aku sudah tidak penting lagi baginya?” keluh Jilbab sambil menundukkan mukanya. Menyimpan kesedihannya.
“Ahh, sudahlah, Ji. Tidak usah terlalu disedihkan. Aku juga miris melihatnya begitu. Dibanding denganmu, aku lebih sedih lagi. Aku hanya keluar dari ruang gelap ini satu bulan sekali. Itu pun Ibunya yang mengeluarkanku” ungkap Kurung Melayu mencoba menenangkan hati Jilbab.
“Apa ia sudah lupa akan pelajaran yang didapatnya saat Madrasyah dulu bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya” Jilbab meneruskan kata-katanya.
“Aku rasa, ia tidak melupakannya, Ji. Manusia memang begitu, ia tahu bahwa hal itu wajib, tetapi tetap saja ditinggalkannya” jelas Kurung, memelankan suaranya sambil melilik bilik sebelah kanannya.
“Aku sangat sedih melihat prilakunya akhir-akhir ini, ibunya juga sudah tak kuasa memperingatinya. Aku rindu saat-saat aku selalu menemaninya. Mengikuti kemanapun ia pergi. Sekarang aku benar-benar kehilangan sahabat seperti dirinya. Aku sudah jarang diajaknya keluar dari ruang pengap ini. Walaupun aku keluar dari sini, aku sudah tidak dipasangkan bersamamu lagi, Kur” ratap Jilbab, wajahnya masih tertunduk, pipinya merah menahan bulir air mata yang hendak mencuat keluar.
“Ha, ha, ha. Apa yang sedang kalian keluhkan, kawan?” sambung celana jeans panjang mengejutkan Kurung yang sedang serius memperhatikan jilbab.
“Engkau tidak senasib dengan kami, engkau sering keluar dari lemari ini menemani paha mulusnya. Menjajaki setiap langkah kakinya saat ia pergi ke luar rumah. Sedangkan kami, sudah lama sekali tidak diajaknya keluar dari sini. Rasanya, aku sudah sangat bosan di ruangan gelap gulita ini. Aku ingin menemaninya seperti dahulu. Aku sungguh menyayanginya” jelas Kurung.
“Sekarang zaman modern, kawan. Aku adalah produk dari moderenisme tersebut. Sedangkan kalian, sudah ketinggalan zaman. Mana mungkin kalian diajaknya lagi keluar dari tempat ini. Sudahlah, terima takdir saja. Sahabat kalian itu telah mati, sekarang ia adalah sahabatku. Aku juga pakaian yang nyaman dipakai olehnya” kata Jeans dengan nada sombong, dadanya diangkat tinggi-tinggi, jarinya diacungkan ke depan meremehkan Jilbab dan Kurung.
“Ohh, tidak. Memakaimu memang sangat nyaman, namun engkau tidak pernah benar-benar menutup tubuhnya. Ia masih tel*njang saat engkau menemaninya. Untuk apa memakai pakaian tapi masih tel*njang. Sungguh, hal itu berdosa” Jilbab mengangkat dagunya, tatapan tajam tertuju kepada Jeans.
“Dosa, katamu? Manusia kini tidak lagi menghitung dosa, kawan. Banyak di antara mereka yang mengerti betul bahwa mencuri itu berdosa, tapi mereka tetap melakukannya bukan? Apalagi dosa berpakaian seperti yang engkau sebutkan itu, mana mungkin mereka mengurusnya.” Jelas Jeans.
“Perkataanmu ada benarnya, jeans. Tapi aku benar-benar tidak ingin ia melupakan aku. Aku adalah titipan Tuhan. Memakaiku akan mendapat pahala. Aku juga sebagai pereda birahi pria-pria hidung belang di luar sana yang siap menerkamnya.” Sambung jilbab.
“Tidak… tidak, toh masih banyak wanita di luar sana yang menggunakanmu di kepala mereka, tapi tetap saja mereka lebih liar daripada wanita yang tidak menggunakanmu.” Jeans membalas perkataan Jilbab.
“Tunggu, Ji. Kita juga sering dipasangkan berdua, bukan?. Bersama dia juga.” Sambung Jeans sambil menoleh ke arah Kaos lengan panjang yang dari tadi diam, mendengar dialog mereka. Ia tersenyum manis. Tanpa kata. Lidahnya masih kelu untuk mengikuti alur pembicaraan mereka sambil mengusap-usap sela matanya. Ia baru saja bangun dari lelapnya. Matanya masih terasa lekat.
“Iya, benar. Tapi sebenarnya aku tidak cocok dan tidak sudi berpasangan dengan kalian berdua. Pasanganku adalah kurung melayu sedari dulu. Kalian berdua itu memang sama-sama menutupi tubuhnya. Tapi tetap saja lekuk-lekuk tubuh sintalnya terpampang jelas, dada bes*rnya masih saja melahirkan birahi bagi yang memandangnya, begitu juga dengan pinggulnya. Kalian tidak benar-benar melindungi dirinya” ungkap Jilbab. Nada suaranya sedikit naik.
“Memang akulah yang sesuai untuk pasangan jilbab. Aku ini tidak memamerkan lekuk dan garis-garis dari tubuhnya” tukas Kurung.
“Tapi saat ini, kamilah sahabatnya. Bukanlah kami yang membujuknya menggunakan kami, tapi itu kemauannya sendiri. Kami ini mengikuti trend. Tidak ketinggalan zaman seperti kalian” Jeans langsung menimpali jawaban Kurung sambil menoleh ke arah Rope (Rok pendek) yang berada di dekatnya.
“Iya, kita ini trend. Tanpa kita dia tidak akan kelihatan menarik. Kalian tahu? Tujuan wanita adalah untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Pilihannya adalah kami berdua. Ketika kami menemaninya, mata-mata di luar sana tidak berkedip memandang ke arahnya. Senyum manis mereka selalu tersungging untuk kami. Entah apa maksud senyuman itu, kami tidak tahu. Ia selalu membalas senyuman-senyuman itu. Kami berdua juga tersenyum” jelas Rope.
“Sudah, sudah. Aku sungguh tidak menyukai keberadaan kalian. Produk-produk moderenisme yang merusak budaya lokal. Seandainya aku bisa melompat keluar. Telah aku lakukan sedari dulu. Kalian itu hanya akan membawanya kepada kemaksiatan. Apa kalian menyadarinya?” jawab jilbab. Matanya melotot. Air matanya sudah mengering. Darahnya terasa naik ke ubun-ubun. Jeans dan Rope terdiam, mematung tanpa kata. Mereka saling memandang, tapi tetap diam, terus mendengar curahan hati Jilbab.
“Saat kalian menemaninya, menjulur-julur nafsu syaitan dari mata yang memandanginya. Impian mereka ialah menyusuri tubuh mulusnya itu di tiap jengkalnya. Kalian tahu, kalau barang mahal itu jangan dipamerkan, sebab ia akan menjadi murah.” Sambung jilbab.
“Maksudmu?” serentak Jeans dan Rope menjawab.
“Lihat saja penjual ikan asin, selalu memajang dagangannya di beranda. Barang murah itu dijamahi siapa saja yang melihatnya. Lalat-lalat, atau nyamuk iseng yang menghampirinya. Sedangkan penjual emas, ia selalu menyimpannya di tempat yang aman, di dalam lemari kaca dan di dalam kotak. Itu menandakan barang yang mahal. Tidak sembarang yang boleh menjamahinya. Kecuali pembeli yang berkualitas. Bukan lalat-lalat atau nyamuk-nyamuk iseng” jelas Jilbab.
“Aku mengerti perasaanmu, Ji. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya produk. Saat ia memilihku sebagai temannya, aku tidak bisa menolaknya.” Ungkap Rope sambil menundukkan wajahnya. Ia prihatin dengan perasaan jilbab yang sedang kehilangan sahabatnya. Jeans masih terdiam, ia juga sudah tidak ingin berdebat dengan jilbab.
“Sudahlah. Do’kan saja agar ia cepat sadar dan kembali kepada prilaku masa lalunya” sambung Mukena yang dari tadi diam mendengarkan obrolan mereka. Semuanya mendongak ke atas, ke arah Mukena. Tingkat paling atas dalam lemari gelap itu.
“Aku hanya dikeluarkannya dua kali saja dalam satu tahun. Sungguh ironis bukan? Apa ia lupa dahulu ia selalu membuka pintu lemari dan menarik tanganku keluar lima kali dalam sehari. Aku juga sering disimpannya dalam tas sekolahnya. Menemaninya hingga pulang sekolah. Sungguh aku rindu masa-masa itu. Tapi kenapa kini ia begitu mudah melupakan aku.” Sambung Mukena, memaku semua kata-kata mereka yang dari tadi riuh gaduh. Mereka hanya diam termangu-mangu. Memandang pintu lemari yang tak kunjung terbuka. Gelap, pengap sungguh mengganggu pernapasan mereka.
“Dia gadis remaja yang lemah, mudah goyah oleh topan zaman yang terus menerjang. Ia mudah terpengaruh oleh hal-hal baru sehingga lupa akan kewajibannya sebagai mahluk yang beragama.” Jilbab memulai kembali kata-katanya.
“Kita disini hanya bisa berdo’a, semoga ia cepat sadar bahwa yang ia lakukannya adalah salah. Mohon maaf saja, kawan. Jika nanti ia sadar, tentunya kalian produk moderenisme tidak dipakainya lagi, atau bahkan kalian bisa dikeluarkan dari ruangan gelap ini. Bukan untuk menemaninya. Tapi untuk menghilang dari kehidupannya” jelas Jilbab.
“Ohh… kami tidak apa-apa, toh kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, kami hanya produk, dirinya sendirilah yang bisa mengubah dirinya. Kami rela jika harus berpisah dari kalian.” Jawab Rope, ia tertunduk. Sedikit sedih tergambar di wajahnya.
Suasana hening melanda dalam ruang gelap itu, semuanya terdiam setelah obrolan panjang, tiada kata yang terucap lagi, semuanya membatin dalam sanubari masing-masing. Kemudian terdengar suara tangisan yang terisak-isak dari arah tingkat bawah, mereka semuanya menunduk ke bawah, melihat siapa yang sedang menangis. Terlihat Ceda (celana dalam) yang sedang menutup mukanya dengan tangan sambil menyapu air matanya yang terus mengalir.
“Kamu kenapa?” Tanya jilbab.
“Apa yang membuat engkau menangis segitunya, kawan?” Kurung ikut bertanya.
“Ayo katakan, kenapa?” desak Rope.
Ceda masih tertunduk, ia malu mengangkat wajahnya. Nada suara yang serak-serak dipaksa untuk keluar dari bibir tipisnya.
“Aku juga sedih, teman-teman” jawabnya.
“Kenapa?” suara tanya mereka serentak. Mata mereka berbinar memandang Ceda yang masih tertunduk. Malu untuk mengangkat wajahnya.
“Aku juga sudah dilupakannya.” Ungkap Ceda.
Wanita muda itu membuka pintu kamar dengan berbalut sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya, mukanya putih bersih. Rambutnya masih basah. Ia membuka lemarinya, lalu diambilnya beberapa helai pakaian, termasuk jilbab. Setelah memakai semuanya, ia berdiri di depan cermin besarnya. Dipandangnya lekat-lekat sosok yang mirip dirinya dalam cermin itu. Sesekali ia tersenyum. Setelah lama terdiam, disemprotkan parfum ke bajunya. Kemudian ia membuka pintu lalu pergi.


Cerpen Islami - Janji

Penulis :


“Tari! Kamu harus janji ya!”
“Janji apa Riani?”
“Kan aku udah janji, aku bakalan balik lagi ke sini dua tahun lagi, kamu juga harus janji kalau waktu itu tiba kamu harus udah berjilbab ya!!”
Matahari sudah muncul dan membungkam ayam yang biasa berkokok dikala subuh, namun Tari masih meringkuk di tempat tidurnya.
“Tari!!! Bangun nak, katanya kamu harus berangkat pagi, hari ini!!” teriak mama Tari dari depan pintu kamar Tari.
“Mmmm.., iya ma…” balas Tari alakadarnya.
Padahal jam weker digitalnya sudah menunjukkan angka 06.03, tapi masih saja rasa kantuk menyerang Tari.
Akhirnya Tari beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi ketika mendengar piring pecah yang dijatuhkan mama Tari. Padahal itu tidak sengaja, tapi karena Tari takut mamanya marah-marah di pagi hari sampai memecahkan piring karena Tari telat bangun, akhirnya Tari beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah mandi seragam SMA Tari sudah melekat di tubuhnya, ia memandangi wajahnya di cermin meja riasnya. Dia teringat mimpinya semalam tentang percakapan terakhirnya dengan sahabat sejak kecilnya sebelum sahabatnya itu pergi ke luar negeri.
Saat itu mereka kelas tiga SMP, sahabat Tari, Riani, harus pindah ke Singapura untuk menjalani perawatan karena Riani terserang penyakit kanker paru-paru. Sebelumnya keluarga Riani sudah melakukan berbagai pengobatan di Indonesia, dari ke tabib-tabib hingga kemoterapi. Hal itu sudah dijalani Riani selama dua bulan, tapi tetap saja kanker yang diderita Riani terus menjadi lebih ganas. Akhirnya keluarga Riani pindah ke Singapura dengan harapan pengobatan di sana bisa mempertahankan keberadaan Riani di dunia lebih lama, terlebih lagi karena Riani merupakan anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga ayahnya.
Pengobatan di Indonesia sudah dijalani Riani sejak semester satu kelas tiga SMP. Tak ayal, banyak efek samping yang dia terima, salah satunya efek kemoterapi yang menyebabkan Riani kehilangan mahkotanya, rambut panjang ikal yang lebat nan hitam. Akhirnya Riani memutuskan mengenakan jilbab mulai saat itu.
Tari heran sebenarnya, kenapa Riani lebih memilih berjilbab dibanding tudung kain yang Tari sarankan pada waktu itu? Tari memang tidak suka memakai jilbab, karena menurutnya berjilbab itu panas dan gerah. Tapi setelah melihat Riani nyaman dan lebih sabar mengahadapi penyakit yang dideritanya setelah memakai jilbab, mungkin karena sejak itu juga Riani mulai dekat dengan Allah. Tari jadi tidak bisa memaksakan sarannya pada Riani. Riani juga sering mengajak Tari sholat, sehingga sampai saat ini, semalas apapun Tari dan setelat apapun Tari bangun dia tetap sudah melakukan sholat lima waktu.
Hingga pada saat detik-detik kepergian Riani ke Singapura, Riani memintanya berjanji untuk sudah memakai jilbab ketika Riani kembali. Permintaan Riani itu layaknya sambaran petir pada Tari, karena Tari benar-benar tidak suka memakai jilbab, sekali lagi, BENAR-BENAR TIDAK SUKA. Tentu saja alasannya sudah tertulis di paragraf sebelumnya. Terbukti hingga saat ini, tepat seminggu sebelum kepulangan Riani ke Indonesia, mahkota bagi umat Islam, khususnya kaum hawa itu belum terpakai secara permanen di kepalanya.
Tari kembali memandangi wajahnya di cermin, kini rambutnya tak terlihat karena sudah tertutupi jilbab yang baru saja dipakainya. Sayangnya, jilbab ini dipakainya bukan untuk menepati janjinya pada Riani, tapi untuk memenuhi aturan sekolah yang mewajibkan setiap murid perempuan yang muslim memakai jilbab di hari Jum’at karena akan diadakan kegiatan iman dan taqwa (IMTAQ).
“Hhaahhh..,” Tari menghembuskan nafas panjang. Jujur saja, permintaan terakhir Riani sebelum dia pergi itu sangat memberatkan bagi Tari. Tapi Tari bertekad, hari ini dia akan mempertahankan jilbabnya sampai pulang sekolah. Walaupun dia tau, tekad ini sangat rapuh, dan akan mencair seiring bertambahnya temperatur bumi di siang hari.
“Hhaahh..” Tari menghembuskan nafas panjang lagi, lalu beranjak untuk pergi ke sekolah.
Bel tanda pelajaran masuk sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu, tapi kegiatan Tari tidak berubah sejak masuk ke kelasnya setelah kegiatan IMTAQ selesai. Dia termenung sendiri. Jilbab yang tadi pagi dipakainya kini sudah lepas dari kepalanya.
Tari masih terngiang-ngiang perkataan ustad yang mengisi acara IMTAQ tersebut yang entah kenapa temanya sama dengan apa yang sejak tadi pagi menjadi kegalauan hatinya yaitu “Keutamaan Berhijab”.
…kalau kalian, kaum hawa, tidak memakai jilbab karena alasan panas dan gerah, coba bandingkan panasnya dunia dengan panasnya api neraka!!…
Tari selalu merinding setiap memikirkan perkataan ustad itu. Akhirnya, satu-satunya alasan Tari untuk tidak menutup aurat telah dipatahkan. Pikirannya mulai mencari-cari alasan apa lagi yang bisa dipakai untuk penundaan selanjutnya, tetapi tetap saja tidak ketemu.
“Tapi aku kan belum siaappp!!!” ujar Tari gusar. Untungnya saat itu suasana kelas sedang ramai sehingga yang mengetahui kegusaran Tari hanya orang yang ada di sebelahnya yang pastinya bukan teman sebangkunya, karena teman sebangkunya kini sedang tidak masuk sekolah.
“Mmm, apanya yang belum siap?” terdengar suara asing tepat di sebelah Tari. Tari langsung menoleh kaget. Di sebelahnya sekarang duduk seorang gadis berjilbab yang memandanginya heran. Tari memasang wajah heran dan kaget, karena dia benar-benar tidak mengenal orang yang sekarang ada di sebelahnya ini. Gadis yang ada di sebelahnya ini kini tersenyum maklum. “Maaf, kamu pasti nggak kenal aku kan?” Tari merasakan pipinya memanas, pasti wajahnya mengatakan kekagetannya walaupun dia tidak berbicara apa-apa. “Aku anak baru, tadi saat aku memperkenalkan diri pasti kamu lagi melamun seperti tadi.” anak itu kemudian mengulurkan tangannya. “Namaku Ina, Inair A. Wardoyo” katanya ramah. Tari terpaku sesaat, Wardoyo, Wardoyo, kok perasaan pernah denger ya? Kemudian Tari sadar sudah menggantungkan tangan Ina yang terulur dan segera menyambut uluran tangan tersebut.
“Tari, Ihda Mentari.” Ucap Tari hampir tak terdengar. Lalu melirik ke arah Ina yang entah kenapa sekarang terlihat gusar.
“Mmm, maaf ya sebelumnya. Kamu ini agamanya apa?” tanya Ina dengan suara selirih hembusan angin, namun dampaknya terhadap Tari sangat besar. Tari merasa seperti ada panah yang menembus jantungnya dan menyuarakan bunyi JLEB yang sangat keras.
“Maksud kamu apa?” Tari balas bertanya dengan ketus. Ia melihat Ina malah tesenyum dan berkata lembut padanya.
“Kalau melihat dari reaksimu, pasti kamu Islam ya kan?” tanya Ina, tapi Tari tahu, Ina tidak membutuhkan jawabannya karena setelah bertanya, Ina langsung melanjutkan. “Soalnya kalau aku nanya seperti itu sama orang non islam pasti dia jawab biasa aja.” Tari cemberut, Ina ini ngomong apa sih?
“Ooooo..,” Tari memutuskan untuk ber-ooo panjang, lalu melihat ke sekeliling kelas. Dia baru sadar kalau sekarang lagi tidak ada guru. Seingatnya guru yang masuk ke kelasnya hanya wali kelas yang mungkin masuk hanya untuk memperkenalkan orang yang sekarang ada di sebelahnya ini. “Eh, kok nggak ada guru sih? Kamu tahu kenapa?”
Wajah Ina menjadi cerah karena Tari tidak menyuekinya lagi. “Hari ini nggak belajar, mau persiapan UN kelas 3 minggu depan katanya.” Tari mengangguk-angguk lalu diam kembali.
Tiba-tiba Tari sadar, persiapan UN kelas 3? Berarti udah akhir tahun pelajaran dong? Kok bisa Ina…
“Kamu kok….,”
“Eh Tar, ke kantin yuk? Sekalian muter-muter, kan hari ini hari pertama aku di sini.” Ina memotong ucapan Tari. Seketika Tari terdiam, dan menyadari perutnya keroncongan karena tidak sempat makan tadi pagi. Tari akhirnya memutuskan untuk ke kantin diikuti Ina dan menyimpan petanyaannya hingga nanti.
Di kantin, ternyata yang memesan makanan hanya Tari, sedangkan Ina hanya menonton Tari makan.
“Kok nggak makan? Kan kamu yang ngajak.” Tanya Tari sambil terus menyuap bubur ayam yang baru diantarkan ibu kantin.
“Udah kenyang. Aku ngajak kamu soalnya kamu kelihatan kelaparan.” Jawab Ina santai. Tari meringis. “Eh, soal pertanyaan tadi, maaf ya.” Ujar Ina tiba-tiba, sebenrnya dia hanya memancing Tari. Namun, Tari sudah tidak mau mengambil pusing soal itu lagi, jadi dia hanya mengangguk. “Tapi, jujur nih. Aku nggak pernah lho ditanyaiin seperti itu sama orang.” Pancing Ina lagi. Tari langsung melotot ke arahnya. Ina tersenyum.
“Kamu nih ya..,” Tari menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu kan pakai jilbab! Jadi..,”
“Jadi karena aku pakai jilbab jadi apa?” potong Ina sambil tersenyum. “Kalau aku pakai jilbab semua orang tau kalau aku muslim ya kan?” lanjutnya. “Kesimpulannya jilbab itu merupakan identitas setiap muslimah! Keren kan?” tutupnya dengan semangat. Seketika Tari tertegun, entah karena dari semangat Ina yang mirip dengan Riani atau dia yang baru sadar akan arti lain jilbab dari setiap muslim.
“Kamu bangga ya pakai jilbab?” sebuah pertanyaan tiba-tiba terucap dari mulut Tari.
“Iya, dong!! Dan tahu nggak Tar? Itu cuma salah satu dari sekian banyak keutamaan berjilbab.” Ucap Ina makin semangat. Berkebalikan dengan Tari yang kini hanya terdiam memandang bubur ayamnya.
Tari teringat kembali tentanng janjinya kepada Riani. Mungkin Allah SWT membantu dia untuk menepati janjinya melalui Ina ini.
“Ina.” Panggil Tari setelah terdiam cukup lama.
“Apa Tar?” jawab Ina cepat. Tari menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.
“Ada yang mau ku ceritain ke kamu. Mungkin aneh ya? Habisnya kita baru aja ketemu. Aku harap nanti kamu bisa bantu memecahkan masalahku.”
Dan mengalirlah cerita tentang Riani dari mulut Tari. Cerita yang Tari tidak menyangka ternyata cukup menguras emosinya, sehingga curhatan Tari diselingi dengan isak tangis. Sampai pada akhirnya, Tari juga menceritakan permintaan terakhir Riani dan betapa sulitnya Tari memenuhi permintaan tersebut.
Setelah hampir 15 menit Tari bercerita, Tari malah mendapatkan komentar yang sangat tidak disangkanya dari Ina.
“Ternyata kamu egois ya!” ucap Ina. Seketika Tari mematung. “Tau nggak sih Tar? Dibanding kamu, yang lebih menderita tuh si Riani. Kamu kira gampang Riani memenuhi janjinya untuk bisa pulang ke sini 2 tahun lagi? Riani tuh kena kanker Tar, hidup sebulan aja udah bersyukur.” Kata Ina terdengar kecewa. Amarah Tari keluar ketika mendengar kalimat terakhir Ina.
“KAMU TAU APA NA?”
“Aku tahu banyak Tari. Seharusnya kamu bisa membandingkan usaha kamu untuk memenuhi janji dengan usaha Riani agar bisa hidup selama dua tahun! Nggak sebanding tau! Maksud Riani tuh baik buat kamu! Kamu kira gampang untuk tetap hidup kalau kena penyakit kanker!” Ina menjelaskan dengan penuh penekanan.
Tari kini tersentak, kalimat penuh penekanan Ina menyadarkan dirinya yang sudah begitu egois. Dia pun hanya terdiam sampai bunyi bel pulang berbunyi.
“Ina, kamu bisa bantu aku untuk memenuhi janjiku?” kata Tari kemudian. Tari bisa melihat senyum yang mengembang di wajah Ina.
“Aku bisa bantu kamu. Aku bisa bebas bantu kamu enam hari ke depan.” ucap Ina dengan nada yang tidak lagi penuh penekanan. Tari mengerutkan keningnya.
“Kok bisa bebas?” tanyanya. Ina terdiam sebentar, lalu tersenyum lagi.
“Soalnya, enam hari kedepan kita free.., gara-gara anak kelas tiga ujian” jelasnya. Tari mengangguk-angguk. Tiba-tiba dia teringat pertanyaannya yang belum selesai dia tanyakan ke Ina. Tapi dia memutuskan untuk menanyakannya lain kali.
Enam hari yang panjang dilewati Tari dengan penuh pengorbanan. Tapi akhir yang didapatkannya sangat menguntungkan. Dari Ina ia belajar untuk mengenal Islam, khususnya soal menutup aurat. Tari jadi lebih mengetahui keutamaan-keutamaan menutup aurat dari Ina dengan didukung oleh ayat-ayat yang ada di Al Qur’an. Contohnya saja Ina memberi tahunya keutamaan menutup aurat dengan surat Al Ahzab ayat 59 yang mengatakan bahwa dengan berjilbab (menutup aurat) seorang muslimah akan lebih mudah dikenali dan dia tidak akan diganggu oleh orang-orang jahil. Juga pada surat Al A’raaf ayat 26 yang mengatakan bahwa menutup aurat itu merupakan salah satu bentuk ketakwaan. Akhirnya, Tari dengan sepenuh hati memenuhi salah satu kewajiban setiap muslimah itu.
Hari ini adalah hari pertemuan kembali Tari dengan sahabatnya. Sejak pagi Tari sudah siap-siap dan kini dia sudah berjalan ke taman tempat dulu Riani menyatakan permintaan terakhirnya sebelum dia pergi.
Tari menunggu berjam-jam, akan tetapi tidak terlihat wujud yang dikenal Tari satu pun di sekitar taman.
Tiba-tiba hanphonenya berdering. Telepon dari mamanya.
“Assalamualaikum, Ma, ada apa?” Tari terkejut karena yang didengarnya pertama adalah isak tangis.
“Riani meninggal pagi ini Tari.., Riani sudah koma sejak seminggu yang lalu..,” perkataan mamanya seketika meluruhkan tubuh Tari. Ia terduduk di rerumputan taman. Tari kembali teringat kata-kata Ina tentang kanker yang entah kenapa tidak disadarinya sejak awal. Akhirnya Tari menangis.
Tari menjadi ingat Ina. Dia ingin bertemu Ina tapi dia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Selama dia belajar Islam dari Ina mereka hanya berjanji untuk bertemu di sekolah di jam yang sudah ditentukan sebelumnya, Ina tidak pernah memberi tahu nomer handphonenya.
“Ina, Ina, Ina..,” Tari menyebut nama Ina, entah kenapa ia berharap Ina dapat mendengarnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu “Ina… Inair, Inair… RIANI!!”
“Apa Tari??” Tari tersentak dan melihat ke belakang dilihatnya Ina yang sedang berjalan ke arahnya. Semakin Ina mendekat, wajahnya semakin mirip dengan Riani. Hingga Tari yakin yang berdiri di hadapannya kini memang Riani.
“Riani..,” ucapnya lirih. Riani tersenyum. Dan memeluk Tari.
“Maafkan aku, aku nggak bisa menepati janji. Kamu.., tetap istiqomah yaa..,” ucap Riani.
Tari tertegun, ia baru menyadari sesuatu. Pantas saja Ina bisa pindah sekolah di akhir tahun, karena sebenarnya dia tidak pindah, tapi hanya hadir dan disadari oleh Tari seorang. Tari sekarang juga tahu Wardoyo yang ada di belakang nama Ina adalah nama belakang Riani yang biasanya disingkat “W” dan “A” pada nama Ina adalah “Amalia” pada nama Riani. Ina tidak pernah makan selama bersama Tari, karena memang Ina hanya sesosok roh yang hanya diketahui Tari seorang. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
Tari kembali tersentak. Bahkan di akhir hidupnya Riani masih sempat membantunya untuk berada di jalan yang diridhai Allah. Air mata Tari kembali menetes saat Riani hanya terlihat seperti kabut saja. Rasa penuh terimakasih memenuhi dadanya.
“Terima kasih, Riani…”
THE END

Cerita Islami - Ketika mas Gagah Pergi

Penulis :

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu’alaikum!"seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya!"kataku sewot.

"Lho memangnya kenapa?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"

"Bodo!"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"

"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"

"Lain gimana Ma?"

"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"

"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."

Mas Gagah tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.

"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

"Mau kemana Gita?"

"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."

"Ikut Mas aja yuk!"

"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

"Mbak Ana?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

"Hidayah."

"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"

"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

"Cuma lagi baca!"

"Buku apa?"

"Tumben kamu pingin tahu?"

"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.

"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.

"Maaas…"

"Apa Dik Manis?"

"Gita akhwat bukan sih?"

"Memangnya kenapa?"

"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.

"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

"Lho! " Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiinggg!" telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"

"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.

"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."

"Gita…" suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.

"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.


Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, insya Allah akhwat!"

"Yang bener?"

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"

"Kok nanya gitu sih?"

"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"

"Ganteng kan?"

"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong, jihad itu…"

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!

Minggu, 22 Juni 2014

Cerpen Islami Pernikahan - Cinta Laki-laki Biasa

Cerpen ini Cocok di baca untuk yang mau menikah atau yang sudah menikah. Selamat membaca
 
Penulis : Asma Nadia

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..